(
John Connoly )
Oleh
: Nikki Agnez
“ Aku membunuh karena aku bisa”
Novel ini dirilis tahun 1999 di Great
Britain/Inggris. Diterjemahkan kedalam bahasa indonesia oleh Barokah Ruziati
dan kemudian dirilis di indonesia tahun 2011. Memang sungguh waktu yang lama
dari terbitnya novel versi original. Ini seperti ketika kita di indonesia
menemukan novel ini berada di rak new
release toko buku dan saat itu pula orang-orang di negara asal buku ini sudah
bosan membicarakan buku yang beberapa tahun silam sangat mereka puja dan
memberi inspirasi. Setidaknya seperti itulah yang saya fikirkan. Mengingat
betapa lamanya jarak waktu novel ini dirilis antar dua negara. Saya tidak tau
apakah ini hanya terjadi di indonesia, atau karena ketebalan novel ini (543
halaman) sehingga membuat Barokah Ruziati membutuhkan waktu yang (sangat) lama
untuk menyelesaikannya. Padahal saya perhatikan novel-nivel lainnya tidak berjarak
begitu lama antara rilis di negara asalnya dan waktu ketika novel itu berada di
list rak buku new release . setidaknya
masih dalam tahun yang sama.
“ Seperti panggung tragedi balas dendam
yang mengerikan.
Dimana Darah menggemakan Darah “
Cerita dimulai dengan sebuah Prolog
tentang pembunuhan istri dan anak tokoh utama Charlie Parker. Pembunuhan yang
sangat tidak berperikemanusiaan itu sangat membuat charlie parker terpukul.
Ditambah lagi tragedi pembunuhan itu terjadi belum lama setelah dia dan istrinya
Susan bertengkar dan Charlie meninggalkan rumah. Di tengah rasa bersalah yang
terus menghantuinya, Charlie yang seorang mantan detektif NYPD di minta oleh
temannya untuk memecahkan sebuah kasus dan melacak seorang gadis yang hilang.
Padahal charlie tidak tau apa-apa tentang gadis yang yang dicarinya : Chaterine
Dameter. Sampai Charlie dibawa ke jantungnya sebuah kejahatan yang
terorganisir. Sebuah pembunuhan anak-anak yang warga dan polisi setempat
mempercayai bahwa kasus ini telah ditutup beberapa tahun yang lalu. Ternyata
sang dewa pembunuh ; Adelide Modine. Masih hidup dan menutup identitas
kejahatannya dengan melakukan penyamaran. Walaupun seorang mantan detektif
Charlie membuktikan kulitas dirinya melalui kasus Adelide yang telah terkubur
selama 50 tahun bersama kebohongan dan kelicikannya. Unsur-unsur intrik dan
kelicikan sangat banyak sekali terdapat dalam kasus adelide modine ini sehingga
kita akan diberikan kejutan-kejutan di dalam jalan ceritanya.
Pada akhir cerita novel ini terdapat
sebuah Epiolog yang menceritakan bagaimana kehidupan Charlie setelah
menyelesaikan semua kasusnya yang berakhir mengejutkan. Sang pembunuh yang
telah menewaskan susan dan jennifer (istri dan charlie), Tee Jean, Florence,
dan si Peramal tua yang tinggal di rawa-rawa Lousiana : Tante marie yang bisa
mendengar suara-suara orang-orang mati korban pembunuhan yang di lakukan orang
yang disebut si pengembara. Penyelidikan
charlie di bantu oleh tiga orang temannya : Angel, louis, Rachel mengalami
kebuntuan saat orang-orang yang berperan dan ikut andil dalam kasus ini mati
terbunuh.seperti morphy dan istrinya, David Fantenot dan Remarr yang mati
menggenaskan akibat menjadi saksi pembunuhan tersebut dengan tidak sengaja.
Sang pembunuh ini tidak hanya menghabiskan nyawa korbannya dengan cara biasa.
Dia membunuh korbannya melalui cara-cara yang terdapat dalam kitab hanoks dan
beberapa lukisan karya Estienne.Pembunuhan dengan cara penyiksaan terkejam yg
pernah saya ketahui. Kepada korbannya, sipengembara memasukan cairan ketamine
kedalam tubuh mereka sehingga ketika melakukan mutilasi atau ketika si
pengembara menganatomi korbanya, si korban tetap hidup dan bisa merasakan
setiap percik kesakitan di setiap inci tubuhnya. Dia menguliti wajahnya,
menguliti kulit bagian vitalnya dan mengeluarkan isi perutnya, kemudian
meninggalkan korban dengan posisi-posisi yang dilihatnya dalam karaya Estienne.
Sipenegembara ini mengaggap bahwa dirinya adalah setan. Itu terlihat dari
kata-katanya yang sama dengan kata-kata setan ketika di tanya mengapa mereka
(setan) di usir dari surga.“ Dosa kita
bukanlah karena takabur. Tetapi karena mendamba kemanusiaan “ (hal. 142)
Pada saat-saat terakhir diceritakan
pertempuran Charlie dengan si Pengembara yang ternyata adalah Sahabatnya
bernama Woolrich, seorang anggota FBI yang mempunyai karir cemerlang. (ini
menguatkan opini saya bahwa didunia gelap seperti itu tak akan pernah ada
persahabatan dan cinta).
Ketika membaca novel yang bergenre
Thriller. Jangan berharap akan menemukan sesuatu yang indah dan menyenangkan
akan terdapat dalam ceritanya. Semuanya hanya bercerita tentang kesakitan,
kekejaman, pembunuhan, kengerian, ketakutan dan semacamnya. Khususnya dalam
novel ini, cinta yang kita anggap sesuatu yang indah didalam ini beralih
menjadi sesuatu yang hina dan mengerikan dalam pandangan pembunuhnya. “pada cara mereka dibunuh, cinta direndahkan
sebagai contoh bagi para pecinta lain tentang kesia-siaan cinta itu sendiri”.
(hal. 494) dan “Dengan kematian orang
lain dia memberikan peringatan tentang kematian kita semua dan kesia-siaan
cinta dan kesetiaan”(hal. 495).
Novel ini memang tidak membahas tentang
kesia-siaan cinta secara mendalam dan mendetail. Tetapi pemikiran si pengarang
yang dituliskan melalui pandangan pembunuhnya tentang cinta itu sendiri sangat
menarik dan memberikan kesan dan pesan tersendiri bagi pembacanya. selebihnya
melalui novel ini ( dan kebanyakan novel thriller lainnya ) kita diperlihatkan
tentang kenyataan di balik dunia yang seperti kita tonton di film
“shopahollic”. Betapa dunia gelap seperti itu terdapat disekeliling kita dan
nyata. Dunia yang keras dan dihuni oleh orang-orang keras pula. Dan di dunia
seperti itu nyawa seseorang bukanlah menjadi sesuatu yang berharga lagi.
Pesahabatan dan cinta tidak pernah ada dalam dunia yang seprti itu dan bisa
dikatakan hal yang mustahil dan hanya akan menjadi tertawaan bagi malaikat maut
yang merajai dunia gelap seperti itu. Tidak akan pernah ada keseimbangan dan
keadilan yang seadil-adilnya “dikehidupan
sekarang kita mendapat hukum, dikehidupan mendatang barulah kita mendapat
keadilan” (hal. 163).
Dari sifat-sifat pembunuh yang terdapat
di novel ini. Di antaranya adalah derdapat intrik, kelicikan dan kekejaman yang
menggambarkan realita kehidupan yang terjadi pada saat sekarang. Kita tidak
hanya berdampingan dengan dunia gelap seperti ini. Akan tetapi, kita juga hidup
didalamnya. Bernafas dan bergantung darinya. Dan secara tidak langsung, kadang
kita juga terlibat didalamnya “kita semua
ikut serta, entah ingin ataupun tidak”. (hal. 496). Juga mereka seperti
teroris yang menyerang langsung kehati setiap orang yang melihat korban mereka
agar dapat mempelajari tentang kefanaan dan kesia-siaan hidup itu sendiri. ”Dia memberikan pelajaran kepada kita
tentang kefanaan”.(hal. 448), “ kita melihat kefanaan diri hanya dari
pemandangan kefanaan orang lain” (hal. 453).
Every Dead Thingquotations
-John Connoly-



“ Sama seperti biasanya, dibungkus
pita merah dan di hadiahkan ke orang lain” (hal.51)









... “ kadang-kadang dia mendeking
kecil ( saat tidur pulas_nikk’s improv) karena bermimpi, mimpi anjing” (hal.
395)
















“Karena aku bisa”. (hal. 531)


